Connect with us

Kaum Muda dan Kaderisasi Partai Politik

Politik

Kaum Muda dan Kaderisasi Partai Politik

Partai Politik kerap disalahkan sebagai biang kerok sumber kegaduhan di Republik ini. Partai Politik juga dianggap gagal menjadi Rahim Persemaian calon Pemimpin Bangsa. Namun, memisahkan Rakyat dari Partai Politik adalah hal yang Absurd.

Partai politik di mata kaum muda zaman sekarang mengalami banyak pergeseran persepsi. Saat ini, partai politik dianggap sebagai arena yang sangat kotor: penuh orang-orang yang korup, tidak kompeten, mementingkan diri sendiri ketimbang kepentingan orang banyak. Singkatnya, menjadi politisi bukanlah sebuah tugas yang terhormat.

Pergeseran persepsi tersebut tentu bukan tanpa alasan. Runtuhnya kekuasaan Orde Baru–yang telah membungkam kebebasan berpendapat dan berorganisasi–ternyata belum cukup untuk memperbaiki tatanan kehidupan demokrasi kita. Di era reformasi ini, politik telah direduksi tidak lebih dari sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antar kekuatan politik, antar elit politik.

Penyebaran informasi melalui beragam saluran media komunikasi membentuk persepsi di kalangan pemuda bahwa para politisi yang semakin pragmatis, transaksional, dan berpikir instan untuk kepentingan individual berjangka pendek. Kita hidup dalam situasi di mana sebagian pihak menganggap bahwa menduduki jabatan publik melalui jalan partai adalah jalan baru bagi keamanan ekonomi. Partai bukan lagi sebagai alat ideologi, alat perjuangan tapi alat akumulasi ekonomi. Partai menjadi sarana transportasi cepat untuk keuntungan ekonomi individual, bukan lagi sarana untuk mewujudkan kepentingan rakyat.

Minimnya keterlibatan anak muda dalam Partai Politik juga disebabkan karena belum maksimalnya proses kaderisasi dan pendidikan politik terhadap anak muda yang dilakukan oleh Partai Politik. Kalaupun ada, hanya ditempatkan pada tempat yang strategis di internal partai. Mereka lebih banyak diposisikan sebagai follower sehingga tidak memiliki ruang untuk membuat kebijakan.

Citra negatif, lemahnya proses kaderisasi dan sempitnya ruang aktualisasi adalah salah satu faktor yang menjauhkan kaum muda dari partai politik. Hal ini tentu sangat mencemaskan, mengingat jumlah pemilih pemuda mewakili lebih dari 40 persen pemilih. Jumlah pemuda usia 16-30 tahun mencapai 25 persen dari jumlah penduduk Indonesia saat ini (Sensus BPS, 2010).

De-Ideologisasi

Inilah yang perlu kita luruskan, perlu kita kenalkan dan pahamkan para anak muda terhadap politik. Bahwa politik adalah proyek sejarah dan ideologi: kerja menyusun satu demi satu sendi kehidupan dan batu-batu peradaban yang memungkinkan keseluruhan kemanusiaan kita termanifestasikan dan berkembang. Politik adalah pilar utama perubahan, maka pemahaman akan politik bagi generasi muda adalah keharusan. (Megawati Soekarnoputri, 2011)

Bahwa Partai Politik adalah instrumen ideologi untuk menemukan bentuknya secara konkret. Partai politik merupakan sarana konstitusional yang mampu mempengaruhi dan mengakomodir ragam kebijakan yang berkaitan dengan kebutuhan kaum. Isu-isu terkait dengan akses pendidikan, lapangan pekerjaan dan dampak globalisasi adalah beberapa isu yang berkaitan erat dengan pemuda.

Menjauhkan kaum muda dari partai politik sama artinya dengan membiarkan mereka semakin tersesat dalam labirin liberalisme dan kapitalisme, yang berlahan namun pasti menggerogoti sendi-sendi ideologi bangsa. Kaum muda Indonesia saat ini berada di bawah ancaman gaya hidup yang hedonisme atau memuja kesenangan semata, konsumerisme yang hanya mau menikmati tanpa pernah mau memproduksi, ancaman pragmatisme yang melulu mengukur segala sesuatu dari sudut pandang materi, tanpa mau bekerja keras dan bersusah payah, serta ancaman individualistik yang abai terhadap persoalan rakyat dan bangsa.

Untuk perlu upaya serius dari Partai Politik agar bisa bersenyawa dengan kaum muda. Pertama : Partai harus memberikan teladan dalam menjalankan kerja-kerja politik yang mengedepankan Ideologi kerakyatan dan kebangsaan, kejujuran, semangat perubahan, dan perjuangan yang selaras dengan kepentingan rakyat.

Kedua : Partai harus mampu membaca gerak perubahan zaman sehingga dapat melebur dengan warna anak muda saat ini tanpa harus kehilangan jatidirinya. Partai harus senantiasa melakukan kaderisasi dan pendidikan politik, serta memberikan kesempatan kepada anak muda untuk menduduki pos-pos strategis sehingga bisa ambil bagian dalam pengambilan kebijakan Partai.

Ketiga : Partai harus bisa menciptakan program-program yang meng-agitasi anak muda untuk kembali ke jalan ideologis serta melawan gerakan de-parpolisasi yang sudah sangat membahayakan. Partai harus menjadi wahana persemaian pemimpin baru Indonesia. Sebuah tempat di mana kedewasaan berpolitik dibangun, kedekatan dengan publik dirawat dan idealisme dijaga. Partai politik bergerak di wilayah kekuasaan, tetapi berakar pada semangat kerakyatan.

Denny Bratha, Founder marhaen.org

Denny Bratha

Founder marhaen.org

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya di Politik

5 Teratas

To Top