Connect with us

Revolusi Mental: Ajakan Move On ala Bung Karno

Kebudayaan

Revolusi Mental: Ajakan Move On ala Bung Karno

Revolusi Mental adalah ‘reject yesterday’ atau gerak maju meninggalkan hari kemarin. Think and rethink, shape and reshape, making and remaking!

Siapa yang pertama kali mengucapkan frasa Revolusi Mental? Bukan Jokowi.

Revolusi Mental pertama kali diucapkan Bung Karno dalam pidatonya di Jakarta, 17 Agustus 1957, berjudul Satu Tahun Ketentuan (A Year of Decision).

Bung Karno ingin bangsa Indonesia ‘move on’ alias beranjak dari sikap mental inlander yang rendah diri. Revolusi Mental, katanya, adalah ‘reject yesterday’ atau gerak maju meninggalkan hari kemarin. Think and rethink, shape and reshape, making and remaking!

Bung Karno membuka pidatonya itu dengan ucapan rasa syukur karena di usia yang ke-12 tahun Indonesia masih tetap berdiri setelah melewati banyak pergolakan. Juga haru, karena Indonesia diberikan kemampuan untuk menyadari betapa banyak hal buruk telah terjadi dan harus segera diperbaiki.

“Ya, saudara-saudara, satu kaleidoskop kebaikan dan keburukan, satu gending bindri kemajuan dan kemunduran, gending bindri kepatriotikan dan kebodohan.. Ya, benar. Orang boleh berkata: itulah Revolusi!”

Ada banyak harapan atau cita-cita yang belum terwujud di usia Indonesia yang sudah menginjak remaja. Yang terjadi, kata Bung, justru melemahnya jiwa nasional bangsa Indonesia: tidak percaya kepada kemampuan diri sendiri, mudah meniru bangsa lain, serta lekas mau enak dan cari gampangnya saja.

“Akibatnya? Segala sesuatu lepas dari buminya, segala sesuatu lepas dari relnya! Segala sesuatu lantas rontok. Segala sesuatu peringisan, karena mukanya bukan lagi muka yang ia bawa tatkala ia keluar dari gua garba Ibu Pertiwi.”

Bung Karno menyebut ini sebagai masa transisi: perpindahan dari masa memperjuangkan kemerdekaan ke masa membangun karakter bangsa. Keamanan, ekonomi dan politik adalah masalah utama yang mendesak dipecahkan. Untuk itulah Bung Karno memilih sistem demokrasi terpimpin—agar tidak ada ‘kerewelan’ di sana-sini.

“Kita sekarang ini berada dalam tingkatan kedua daripada Revolusi, yaitu tingkatan nation-building. Tingkatan pertama daripada Revolusi kita ialah tingkatan memecahkan belenggu, tingkatan pemerdekaan, tingkatan liberation.”

Di sinilah Bung Karno mengatakan pentingnya Revolusi Mental. Kata Bung Karno, Revolusi Mental ibarat penyucian kembali jiwa, peremajaan, penataan kembali, pembangkitan kembali, penggeloraan kembali, atau apa pun yang berarti ‘menuju kebaikan’.

“Nation-building membutuhkan bantuannya Revolusi Mental! Karena itu, adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah! Ya! Bangkitlah, bangkit dan geraklah ke arah pemulihan jiwa.. menyadari kembali cita-cita nasional, menyadari kembali cita-cita sosial, menjadi manusia baru.”

Revolusi Mental, jelas Bung Karno, sebuah ikhtiar terus-menerus yang tidak selesai satu dua hari. Membangun mental suatu bangsa–tak terkecuali mental pemimpin dan elitnya–tidak seperti berbisnis atau semudah ganti baju. Revolusi Mental harus dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun.

“Sebenarnya tiap-tiap Revolusi yang betul-betul Revolusi adalah Revolusi Mental. Atau lebih tegas lagi: bersyarat Revolusi Mental.”

Untuk menjalankan Revolusi Mental, Bung Karno bahkan secara resmi meluncurkan Gerakan Hidup Baru. Salah satu programnya mengentaskan rakyat Indonesia dari buta huruf. Gerakan ini juga mengajak semua manusia Indonesia agar selalu menjunjung tinggi gotong-royong, menjalani hidup dengan sederhana, sehat dan bersih.

“Seluruh jiwa kita harus kita permudakan kembali, harus kita cuci kembali, harus kita sikat kembali. Seluruh jiwa kita harus kita tempa kembali, harus kita gembleng kembali.. Gerakan Hidup Baru berisi Revolusi Mental, yaitu perombakan cara berpikir, cara kerja, cara hidup, yang merintangi kemajuan.”

Bung Karno menyadari banyak pihak yang sinis dengan Gerakan Hidup Baru. Termasuk sikap menganggap remeh gerakan ini. Bahkan ada yang menuding ini jiplakan dari New Life Movement di luar negeri. Alangkah picik, katanya, pandangan yang demikian itu.

“Sekali lagi saya katakan: … Ia adalah satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Maksudnya tidak kecil. Maksudnya besar untuk menyelesaikan satu perjuangan yang amat besar.”

“Marilah kita semua satu-persatu mencoba menjadi besar. Angkatkanlah diri kita di atas segala tetek-bengek yang kecil-kecil!”

Respati Wasesa

Pengasuh situs sukarno.org

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya di Kebudayaan

5 Teratas

To Top