Connect with us

Mega Teringat Pesan Bung Karno saat Terima Honoris Causa

Megawati/Pikiran Rakyat

Politik

Mega Teringat Pesan Bung Karno saat Terima Honoris Causa

Presiden Indonesia kelima, Megawati Sukarnoputri, menerima gelar honoris causa bidang politik dan pemerintahan dari Universitas Padjajaran di Graha Sanusi Hardjadinata, Bandung, Rabu (25/5/2016).

“Bung Karno juga dianugerahi gelar doktor honoris causa dalam ilmu sejarah di Universitas Padjajaran. Itu gelar ke-25 yang beliau terima. Saya masih kalah hehe…,” kata Megawati sembari tertawa.

Penghargaan tersebut seolah menuntaskan jenjang pendidikannya yang terhenti di kampus itu, 49 tahun yang lalu. Mega pun teringat dengan pesan-pesan ayahnya, Bung Karno.

Ceritanya, setelah lulus dari SMA Perguruan Cikini tahun 1965, Mega hijrah ke Bandung. Bercita-cita mendalami ilmu psikologi, Bung Karno mendesak Megawati mengambil jurusan pertanian.

Mega berkata, Bung Karno yang kala itu masih menjadi orang nomor satu di Indonesia memaparkan betapa pentingnya ilmu pertanian bagi hajat hidup masyarakat.

Mengutip ayahnya, Mega berujar, ilmu pertanian dapat menghadirkan kemandirian bagi masyarakat, paling tidak di sektor pangan.

“Bung Karno sangat kokoh dan meyakinkan saya untuk memasuki dunia yang menjadi mata pencaharian terbesar rakyat Indonesia,” kata Mega, seperti dilansir Antara, tatkala menyampaikan orasi ilmiah bertema “Bernegara Dengan Satu Keyakinan Ideologi”.

Perjalanan pendidikan Megawati di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran berhenti tahun 1967. Ia beralasan, kondisi politik dalam negeri ketika itu memaksanya untuk tidak lagi menuntut ilmu di kampus yang saat ini terletak di Jatinagor, Sumedang, Jawa Barat itu.

Di dekade 1970-an, kampus Fakultas Pertanian Unpad masih berada di Jalan Maulana Yusuf, Kota Bandung.

Pada tahun itu, posisi Bung Karno sebagai presiden memang tengah goyah akibat Peristiwa 30 September 1965.

Januari 1967, Bung Karno menyampaikan pidato Pelengkap Nawaksara di depan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

16 Februari, MPRS mengumumkan penolakan mereka terhadap pertanggungjawaban Bung Karno melalui pidato Nawaksara. Selama sepekan setelah penolakan itu, pucuk kekuasaan negara pun berpindah ke Soeharto, sebagai pengemban Ketetapan MPRS Nomor IX/MPRS/1966.

“Semuanya memaksa saya untuk tidak melanjutkan kuliah di kampus ini,” ujar Mega.

Selepas kegagalannya menempuh pendidikan tinggi di Unpad, Mega kembali memulai perkuliahan di Universitas Indonesia tahun 1970. Di kampus itu, Mega mengambil jurusan yang diidamkannya sejak lulus sekolah menengah atas: psikologi.

Namun, Mega lagi-lagi tidak mengakhiri pendidikan tingginya dengan gelar sarjana. Tahun 1972, Mega keluar dari UI.

Latar belakang pendidikan tersebut faktanya tidak menghambat jalan Mega ke Istana Negara tahun 2001. Pencabutan mandat MPR kepada Abdurrahman Wahid yang kala itu menjabat presiden, memuluskan langkah Mega mengulang jalan politik ayahnya.

Selama tiga tahun, Mega menjadi presiden. Untuk menjadi presiden, seseorang tidak wajib menempuh pendidikan tinggi. Undang-undang mengatur, syarat pendidikan seorang presiden adalah sekolah menengah atas.

“Mempelajari sejarah bukan berarti sekedar mengingat peristiwa atau periodisasi dalam sejarah,” kata Mega.

“Mempelajari sejarah adalah memahami pemikiran, nilai, keyakinan dan dialetika yang terjadi di setiap peristiwa penting di masa lalu atas dasar kebenaran sejarah.”

Sumber: CNN Indonesia

Redaksi Marhaen

Redaksi situs Marhaen.org

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya di Politik

5 Teratas

To Top