Connect with us

Mega: Kekerasan ke Perempuan dan Anak Paling Keji

Politik

Mega: Kekerasan ke Perempuan dan Anak Paling Keji

“Kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah kejahatan paling keji terhadap kemanusiaan,” kata Megawati.

Presiden ke 5 Megawati Soekarnoputri berbicara tentang kekerasan terhadap perempuan di seminar bertajuk ‘Jenayah Seksual Kanak-kanak: Hentikan!’. Menurutnya, kekerasan pada perempuan dan anak adalah kejahatan kemanusiaan paling keji.

“Kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah kejahatan paling keji terhadap kemanusiaan,” kata Megawati di Pusat Dagangan Dunia Putra, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (14/3/2017).

Oleh sebab itu, Megawati menuturkan perlu ada kerja sama antar negara untuk mengatasi masalah kekerasan tersebut. Salah satu potensi kerja sama itu menurut Megawati dapat melalui ASEAN, meskipun dia mengatakan dari data UNICEF pada 2009 terlihat ASEAN mengalami banyak kejadian perdangangan serta eksploitasi perempuan dan anak.

“Diperlukan kerja sama untuk mengatasi masalah ini dengan melahirkan sistem hukum yang adil bagi perempuan dan anak. Di luar itu, kerja sama antar negara di dalam memberantas kejahatan kemanusiaan yang terorganisir dengan rapi ini sangatlah diperlukan,” ujar Megawati.

“Kita dapat terus melakukan kerja sama regional untuk mengakhiri segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak. Perjuangan ASEAN ini adalah perjuangan bersama bagi pemenuhan hak asasi manusia,” sambungnya.

Megawati juga sempat mengutip data yang diungkap oleh New Strait Times terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak di Malaysia pada 2015 yaitu sebanyak 4.453 kejadian. Angka itu menurut Megawati bukanlah jumlah sesungguhnya, dia berkeyakinan ada fenomena gunung es dalam kasus ini.

“Saya meyakini, data yang diungkapkan pun baik di Indonesia, Malaysia, maupun negara lain, hanya merupakan ‘fenomena gunung es’, yang tidak akan mengungkapkan realitas data secara keseluruhan. Penyebabnya bermacam-macam, akses untuk melaporkan, ada anggapan aib bagi keluarga, pihak penegak hukum yang kurang responsif dan tegas, yang masih memiliki perspektif kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan ranah privat yang tidak bisa tersentuh hukum,” ujarnya.

Dia menyebut budaya atau kerangka pemikiran terhadap pentingnya perlindungan perempuan secara khusus sudah ada dan berkembang di Indonesia. “Dalam filsafat nenek moyang kami, ada satu peribahasa yang sangat penting, yakni ‘Surga di telapak kaki ibu, bukan di telapak kaki bapak. Ini cerminan local wisdom yang hidup dan tetap relevan dalam era modern seperti ini,” ungkap Megawati yang disambut tepuk tangan peserta seminar.

Selain itu, dia menuturkan sejak awal kemerdekaan, para pemimpin Indonesia telah memiliki pemikiran tentang pentingnya peran perempuan. Salah satunya menurut Megawati adalah buku ‘Sarinah’ yang ditulis oleh Soekarno.

“Bung Karno, Proklamator, Presiden RI pertama dan Bapak Bangsa Indonesia, menegaskan bahwa perempuan adalah ibu peradaban. Beliau menuliskan buku yang menjadi inspirasi perjuangan kaum perempuan, yakni Sarinah,” ungkap Megawati yang merupakan putri Presiden ke-1 RI, Soekarno.

Sumber: Detik.com

Redaksi Marhaen

Redaksi situs Marhaen.org

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya di Politik

5 Teratas

To Top