Connect with us

Kalau Saja Bung Karno Memilih Jadi Pegawai Belanda

Bung Karno muda/Istimewa

Kebudayaan

Kalau Saja Bung Karno Memilih Jadi Pegawai Belanda

Sebenarnya mudah saja bagi Sukarno menjadi pegawai negeri Hindia Belanda. Mendapatkan gaji rutin dan lepaslah ia dari kemelaratan masa muda. Mengapa tidak?

Saya akan ceritakan bagaimana keadaan Sukarno setelah ia lulus kuliah dari jurusan teknik sipil Technische Hoogeschool Bandung (sekarang ITB) pada akhir Mei 1926. Cerita ini dicurhatkan Sukarno dalam buku otobiografinya yang masyhur itu: Penyambung Lidah Rakyat.

Sukarno adalah mahasiswa yang tidak pandai dalam pelajaran ilmu pasti, yang menyangkut hitung menghitung angka. Kelebihannya, ia piawai menggambar atau merancang sebuah bangunan.

Skripsinya tentang perencanaan kota mendapat pujian dari para profesor. Atas kelebihan itulah, begitu lulus, ia ditawari banyak pekerjaan: menjadi asisten dosen atau pegawai negeri. Apalagi saat itu jumlah insinyur pribumi bisa dihitung jari.

Seorang profesor bernama Charles Prosper Wolff Schoemaker terus membujuk Sukarno agar mau ‘bergabung’ dengan pemerintah. Menurut Wolff, Sukarno adalah juga insiyur yang memiliki ide-ide kreatif.

Wolff bahkan langsung menghubungkan Sukarno dengan pejabat di Bandung. Sukarno diminta membuat komplek rumah untuk bupati di sana.

Bukannya memberikan jawaban yang menggembirakan, Sukarno malah mengejek perencanaan kota Bandung ala Belanda.

“Kota Bandung direncanakan seperti kandang ayam. Bahkan jalannya sempit, karena ia dibuat menurut cara berpikir Belanda yang sempit. Sama saja dengan proyek yang sedang tuan rencanakan.”

Sukarno menolak. Tapi Wolff yang bijak terus merayu pemuda berusia 25 tahun itu. Kalau tidak mau menjadi pegawai, saran Wolff, jadilah freelancer alias pekerja lepas.

Setelah mikir-mikir, Sukarno akhirnya mau. Itu pun karena ia menghargai Wolff. Tapi cukup satu proyek saja. Dan benar: karyanya begitu mengesankan.

Dua rumah tua di Jalan Gatot Subroto 54-56 Bandung, yang dikenal sebagai Gerbang Malabar, konon adalah karya Sukarno saat baru lulus kuliah.

Pemerintah ingin Sukarno menjadi pegawai tetap sehingga bisa mengerjakan karya arsitektur serupa untuk pejabat-pejabat lain. Namun, yah, namanya juga Sukarno. Ia tetap tidak tergiur.

Tentu saja, pilihan itu membawa konsekuansi. Sukarno, yang sudah tidak lagi dapat kiriman uang dari bapaknya di Blitar, terpaksa putar otak untuk mencari uang.

Ia tidak mungkin terus-menerus menggantungkan hidup dari istrinya, Inggit Garnasih, yang bekerja keras mencari nafkah dengan berjualan apa saja: rokok kawung dan bahan kecantikan, seperti bedak.

Pemasukan tambahan Sukarno-Inggit adalah dari penyewaan petak rumahnya di Jalan Dewi Sartika Bandung. Selain itu, orang yang menyewa juga membayar makan yang telah dibikin Inggit.

Di tengah kegalauan sebagai ‘pengangguran’, Sukarno mendengar kabar ada lowongan pekerjaan guru di Yayasan Ksatrian Instituut Bandung asuhan Danudirja Setiabudi alias Douwes Dekker, tokoh pergerakan nasional senior kawan seperjuangan Ki Hajar Dewantara dan Tjipto Mangunkusumo (tiga serangkai).

Begitulah, akhirnya Sukarno mengajar mata pelajaran sejarah di sekolah itu pada tahun 1926. Juga ilmu pasti–pelajaran yang menyebalkan baginya.

Sayang, pekerjaan itu pun tak berjalan lama. Sukarno dipecat atas rekomendasi Departemen Pengajaran Hindia Belanda. Gaya mengajarnya di kelas, untuk pelajaran sejarah, dianggap terlalu ekstrem.

Sukarno mengajar tidak seperti umumnya guru. Ia lebih banyak bercerita atau berteater, kadang seperti orasi, dan yang keterlaluan adalah mengajarkan siswa untuk mengutuk pemerintah Belanda. Duh!

Akhirnya Sukarno memutuskan untuk membuka biro jasa arsitek di rumah yang sempit itu, dibantu seorang kawannya. Sayang, usaha ini kurang berhasil.

Sukarno lebih sibuk menghabiskan waktunya untuk Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada Juli 1927–sebuah kelanjutan dari Algemeene Studie Club yang telah dirintis Sukarno di kampus.

“Di jaman PNI ini orang telah mengakuiku sebagai pemimpin, akan tetapi keadaanku masih tetap melarat,” cerita Sukarno. Teman-temannya bahkan paham betul kalau Sukarno selalu tidak punya duit.

Meski hidup melarat, Sukarno dan Inggit tetap bersyukur. “Adalah suatu rahmat dari Tuhan Yang Maha Pengasih, bahwa kami diberi‐Nya nafkah dengan jalan yang kecil‐kecil.”

Ujian bagi keluarga Sukarno tidak berhenti pada soal ekonomi. Aktivitas politiknya, juga menulis di media propaganda asuhannya, membuat Sukarno selalu dekat dalam bahaya.

Akhir Desember 1929, ia dijebloskan pemerintah Hindia Belanda ke penjara Banceuy Bandung untuk pertama kalinya. Sejak itu, Sukarno muda melewati penderitaan demi penderitaan: dipenjara dan dibuang.

Orang-orang di sekeliling Sukarno setia menemani. Istrinya, serta anak angkatnya, menguatkan Sukarno. Bahkan mertuanya, Ibu Amsi, ikut dalam pembuangan ke Ende hingga meninggal di sana.

Jadi apa alasan pasti Sukarno saat itu, sehingga ia memilih jalan yang terjal ketimbang hidup ‘nyaman’?

“Pemuda sekarang harus merombak kebiasaan untuk menjadi pegawai kolonial setelah memeroleh gelarnya. Kalau tidak begitu, kami tidak akan merdeka selama‐lamanya.”

Respati Wasesa

Pengasuh situs sukarno.org

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya di Kebudayaan

5 Teratas

To Top